Sejuta Flamboyan untuk membangun Green Land Icon dan Pariwisata Baru KLU

  • Beranda
  • Sejuta Flamboyan untuk membangun Green Land Icon dan Pariwisata Baru KLU
Bunga Api
September 27, 2016 Category: Artikel

Argumentasi Lombok Utara Kota Api

Oleh. D. Pramoehardie – WPR.001.15

 

 

dan Surga kecil Nusa Tenggara itu Bernama Lombok Utara

                                                      ini tentang bumi dan tanah kita,

                                                       ( Bumi Sejuta Flamboyan, ‘’next time klimatologica ” )

 

PENDAHULUAN

Hutan dan Ruang Terbuka Hijau tidak hanya memberi tempat bagi siapapun untuk menikmati kemerdekaannya sebagai manusia dengan anatomi tubuh yang tersusun dari oksigen yang bersih tapi ia juga adalah struktur bumi yang memiliki fungsi penting bagi keberlanjutan hidup manusia.

Kajian – kajian yang menyebutkan “Tuhan menciptakan segala sesuatu hanya satu kali“ mengisyaratkan jika Air pun di diciptakan Tuhan hanya satu kali dengan volume yang mampu menenggelamkan bumi hanya saja Tuhan telah meciptakan Pepohonan sebagai filter yang membuat mahluk yang benama Air ini tidak menenggelamkan bumi

Kajian – kajian tersebut dibenarkan oleh fakta – fakta alam yang dalam siklus pergerakan air, yang kemudian Pepohonan memiliki fungsi tampung sementara dan mengalirkan air secara bertahap, dapat dibayangkan jika Pepohonan telah berganti dengan tinag – tiang beton  yang kemudian air kembali kelaut tanpa filter, maka erosi, banjir bandang, abrasi dan penyusutan jumlah daratan pada bumi pun akan terjadi.

Masyarakat di negara – negara yang telah kehilangan Pepohonan tidak saja mulai merasa terancam dari aspek kesehatan tapi juga mulai terancam dari bahaya – bahaya bencana turunnya permukaan tanah dan mulai terjadinya penyusustan luas daratan akibat dari penggunaan air tanah yang berlebihan tanpa adanya filter alam.

Pepohonan telah menjadi surga kedua yang ada di bumi bagi negara – negara yang telah kehilangan hutan, beratnya polusi yang merupakan efek dari tehnologi, ketersediaan sumber air yang telah mulai menyusut, dan bencana alam yang tidak henti – hentinya terjadi mengisyaratkan jika hal terpenting dari penciptaan bumi telah mulai rusak dan itu adalah Pepohonan.

Sudah saatnya dalam setiap consept keterbangunan menjadikan Pepohonan sebagai bagian yang tidak dikorbankan, dalih – dalih pembenaran yang mengatakan bertambahnya populasi manusia rentan merusak Pepohonan adalah alasan – alasan  klasik hanya untuk menutupi ketidak mampuan kita membuat perencanaan pembangunan yang lebih berpihak pada Pepohonan dan kelangsungan hidup manusia.

Hutan dan Ruang Terbuka Hijau dalam pengelolaan modern tidak saja menjadi kaku dengan batasan gelap, kayu, sepi dan menakutkan tapi hutan akan menjadi bagian yang akan menyumbang  peluang terbukanya lapangan ketenaga kerjaan asal dikelola dengan baik dan benar, bagaimana hal tersebut dilakukan oleh Vietnam yang secara Indeks Prestasi Manusianya jauh lebih rendah dibanding Indonesia namun karna kekuatan nya menjaga keraifan culture, telah mampu membuat negara tersebut menjadi pengelola wisata hutan, Ruang Terbuka Hijau dan air untuk meningkatkan taraf ekeonomi.

Meyakini manusia adalah bagian dari alam yang kemudian jika alam tersakiti akan berbalik menyakiti manusia adalah consept culture dan budaya yang telah menjadi prinsip dari generasi ke generasi, lalu apa alasan kita membiarkan Pepohonan menjadi Tiang Beton, membiarkan hutan menjadi seonggok tanah, apakah kita telah terbiasa melihat saudara – saudara kita dihanyutkan banjir bandang, tertimbun longsor dan kehausan dinegeri yang dikatakan pecahan surga.

Pepohonan adalah penjaga bumi, penjaga umat manusia dan semua mahluk dari kehancuran, terlalu banyak teori – toeri dunia dalam diskusi panjang tentang menyelamtakan hutan namun tetap saja tuan – tuan ilegal loging berkeliaran membabat Pepohonan dengan bebas tanpa rasa berdosa, hutan sedang menunggu partisipasi siapapun untuk membuatnya kembali menjadi hutan, bukan mrnjadi ladang, bukan padang dan bukan menjadi onggokan tanah atau hutan akan memberi kabar tentang kerusakannya melalui bencana longsor, banjir bandang dan lain – lain agar manusia menegerti Pepohonan adalah bagian dari diri manusia.

BUMI SEJUTA FLAMBOYAN

Manusia tidak saja bekerja untuk dirinya dan kekinian, tetapi sejujurnya untuk titik kecil yang bernama pengabdian kepada Tuhannya, Penguasa Jagad yang membentang tujuh tiang bumi dan langit dengan ke  TunggalanNya yang hak, kepada penyempurna nikmat, yang mengisi raga dengan tiupan anggin di titik yang lalu kita hanya diam dan menyadarkan akal kita yang terkadang kekanak kanakan.

Jagad ini tidak Ia cipatakan untuk diam, begitu juga bumi dan isinya, bergerak dinamis seimbang dengan sisi, isi keindahan sebagai mana kita kitab suci nukilkan dan kisah kisah para nabi, sebagai satu kesatuan utuh yang tak mungkin dipisahkan, seperti rangkaian yang amat rumit,

Manusia adalah manipestasi dari bumi, gambaran yang jelas tentangNya, sudut kesempurnaan yang Ia tuangkan dengan tambahan modal akal, sehingga menjadi utuh, sebagai penghulu bumi, kata kunci dari kerusakan, juga sebaliknya,

dalam hikayat hikayat tua, keindahan surga dibahasakan dalam karya karya sastra dengan idiom dan iktibar yang begitu dalam, bahwa bumi adalah manifestasi kecil dari gambaran surga  yang menjadi misteri para pemikir dan pengembara  ilmu tauhid, hingga patutlah satu daunpun dalam kutipan hikayat, helainya berzikir memuja keindahan ciptaanNya dan Peciptanya, lalu menjadi pertayaan kekinian kita yang selalu pada upaya menagih janji Tuhan kita, jikalau satu manusia diruang keindahan bernama pantai ( pesisir ) menanam satu pohon yang kan menumbuhkan jutaan helai daun dan bunga yang indah, lalu merawatnya untuk juga menumbuhkan mamfaat yang luas, taka da jenis alat penghitun yang kan mampu menuangkan nilai nilai yang sebenarnya tertanam daram diri kita ( manusia ) sebagai penghulu tunggal atas bumi.

Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan adalah bagian dari skema pikiran Mensukseskan Program 99 Hari  kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara, dalam rangka percepatan menuju Lombok utara lebih baik dengan daya dukung terbangunan pada sector lingkungan berbasis multi sector yang pada titiknya mengahtarkan manusia Lombok utara yang berdaulat secara lingkungan, ekonomi, pendidikan, social budaya dan Spritual,

Mendaulat Bumi Sejuta Flamboyan menjadi sebutan lain bagi Lombok Utara, yang kedepan menjadi icon daerah, yang pada harapannya nantinya Mendaulat Areal baru pariwisata yang memberikan mampaat baru untuk masyarakat Lombok Utara, juga menjadi sebuah upaya memperbaiki ekosistem, dan Menjadikan Areal Bulevard Jalan Sebagai ruang Rekreasi, Terbuka Hijau Bagi Masayarakat Lombok Utara dan Upaya baru sebagai pemantik wisata alternative selain pantai dan gunung di kabupaten Lombok utara

Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, sebagai upaya mendaulat Pohon, sebagai solusi pariwisata baru yang nantinya memberikan kesadaran positif bahwa pohonpun menjadi kebutuhan yang penting tidak hanya pada pada wilayah wilayah hulu tetapi hilir juga dan ruang terbuka kota.

Bumi Sejuta flamboyant yang pada pikirannya dan wujudnya nanti, menjadi ruang terpanjang baru diseluruh Indonesia bahkan didunia dengan memantik kesadaran bersama sebagai bentuk aplikasi bersama menumbuhkan pohon dengan nilai dalam kurun waktu yang tentunya butuh keteguhan dan sumbangan hati bersama karena ini tentang bumi dan tanah kita, untuk kita dan anak anak kita nanti

BUMI SEJUTA FLAMBOYAN  SEBAGAI  PENYANGGA PARIWISATA LOMBOK UTARA

Tidak banyak mungkin yang dapat kita berikan kepada tanah ini, selain kesepakatan kesepakatan hati untuk bekerja secara diam, tak jumawa mengangkat bahu lebih dari kepala, mengangkangkan semangat hanya pada cerita cerita media social saja, untuk bumi , untuk sesuatu yang selalu terbarukan, dengan upaya dan nilai yang kuat tertanam didalamnya, dengan munafaat yang tak berbatas untuk kemasalahatn bersama dalam aplikasi kegiatan yang bersipat multi efeck dan terpilot projeck

Domain Pariwisata tidak hanya pada tumpuan wisata Budaya,  Pantai, Gunung dan Hutan, sudah saatnya ide baru mendaulat keterbangunan sector pariwisata berbasis Blocking Urban Forestry, dalam konsep Daulat Pohon dengan menu menanam teraplikasi di daerah tertentu ( Blocking Area ) dengan upaya dan system Pemantik ( system tanam di areal pesisir ) dan pola control terpadu ( Web Control dan APK. ) yang lalu memunculkan wilayah wilayah baru yang produktif ( Destinasi Wisata Safari Flamboyan )  untuk eco wisata dan ruang belajar warga, pada musim berbunga Flamboyan ( Desember sampai Maret )  maupun pada musim Dormansi Pohon ( Tampa Bungga  dan Daun ).

Dampak Flamboyan Sebagai Penyangga Sektor Pariwisata :

  • Safari Flamboyan ( Blooming Royal Poinciana Fest ) sebagai alternative Pada Musim Sepinya Kunjungan Wisata Pada Bulan Januari Sampai Maret, bulan dimana menjadi puncak  berbunganya Pohon Flamboyan ( Blooming Royal Poinciana ), barang pasti menjadi magnet pariwisata baru, dan paket destinasi yang menarik sepanjang ruas kilometer jalan Lombok Utara, dan Pantai
  • Icon Kota Api Atau Bumi Sejuta Flamboyan, membumikan nilai baru yang akan menjadi trendsetter pengembangan pariwisata berbasis lingkungan, baik di areal kota maupun pesisir pantai dan tempat wisata yang sudah popular ( sebutan lain )Lombok Utara, sebagai daerah kunjungan wisata nasional maupun internasional
  • Multi Efeck Program, ketika pohon flamboyant tumbuh, tidak saja lalu, hanya akan meranumkan bungga sebagai nilai tambah estetika, tetapi pada sejatinya mendatang keteduhan yang tak berbatas, dan sebagai pemantik dari perkembangan ekosistem lainnya, seperti habitat burung ( 25 Jenis Burung Kicau ), kupu Kupu, Trigona Sp dan berbagai jenis seranga lainnya, yang selama ini, hampir punah karena habitat pohon berbungga sebagai penghasil makanan atau nectar  mulai tergantikan dengan ruang ruang bangunan
  • Flamboyan Penyangga Geosite, Tanah kita ( Lombok Utara ) Bagian penting dari geositi rinjani, sepanjang pantai, tebing, gunung, keutuhan masyarakanya adalah bagian yang termaktub menjadi bangian dari Rinjani Geosite, bagian yang penting, untuk terus dikembang, tidak lantas diam pada nilai itu saja, sebagai  mana pada cita cita kita bersama membangun tanah ini tidak bertumpu pada satu sector, yang pada nilainya akan berkurang pada saatnya nanti

BUMI SEJUTA FLAMBOYAN  SEBAGAI  PENYANGGA LINGKUNGAN  RUANG KOTA DAN PESISIR :

  1. Geofisik Lombok Utara

Lombok Utara adalah kabupaten dengan Countur Geologi wilayah yang didominasi oleh pegunungan dan pantai dengan jarak pantai dan gunung yang begitu dekat mengisyaratkan jika Kabupaten Lombok Utara adalah wilayah yang dulunya ditutupi hutan belantara dengan elevasi menurun hingga ± 42̊ (derajat) dari titik tertinggi kearah pantai, yang artinya turunnya aliran air dari arah ketinggian menjadi sangat deras.

Fisik Geologi (Struktur Lapisan Tanah) yang tersusun dari bebatuan tidak padat dan debu vulkanik adalah bentukan permukaan Bumi Lombok Utara yang terjadi akibat letusan Gunung Berapi (Rinjani) di masa lalunya, karena itu relevansinya:

  1. Struktur Lapisan tanah menjadi labil
  2. Aliran air saat musim penghujan menjadi deras baik aliran air dipermukaan maupun aliran bawah tanah
  3. Kajian Dampak

Struktur Geofisik Lombok Utara dengan Countur Pegunungan dan laut yang memiliki jarak sangat dekat yakni rata – rata ± 6 – 8 Km dengan elevasi 42̊  (Derajat) dan Struktur Lapisan Tanah yang tersusun dari batuan tidak padat dan debu vulkanic memungkinkan terjadinya:

  1. Bencana Alam seperti Erosi, Banjir Bandang dan lainnya karena lapisan tanahnya akan mudah tergerus air yang mengalir dengan deras
  2. Bencana Kekeringan karena air tanah pada daerah dengan elevasi (kemiringan) tersebut mustahil akan tertahan lama apalagi dengan Lapisan Tanah yang tidak tersusun dari batuan padat
  3. Rentan Rusaknya Infrastruktur jalan, irigasi dan drainase karena pada setiap musim penghujan lapisan tanah labil tersebut akan mudah terbawa air dan menutupi saluran, irigasi dan jalan
  4. Pendangkalan laut dan abrasi karena tanah labil tersebut mudah dibawa air kewilayah pesisir pantai baik yang dialirkan melalui permukaan tanah ataupun yang dibawa melalui aliran bawah tanah
  5. Terganggunya ekosystem laut seperi terumbu karang, terusirnya Plankton (Makanan Hewan Laut dan Penghasil Oksigen Terbesar “Kajiana Riset Nasa”) serta pendangkalan laut akibat derasnya aliran air baik dari permukaan maupun bawah tanah yang membawa lapisan tanah, hal tersebut sangat berdampak pada hasil tangkapan nelayan trdisional (Data Dampak Kerusakan Hutan Bagi ekosystem Laut, 2015 by Pawang Rinjani)

Dampak Bumi Sejuta Flamboyan tehadap keterbangunan Lingkungan  :

Kepada ruang berpikir utama aplikasi berpikir ini dihajatkan, yaitu keterbangunan lingkungan yang berimplikasi pada estetika, membangun ruang vegetasi kota ( urban vegetaion ) tampa mengenyampingkan fungsi tegakan dan memenuhui hajatan kebutuhan manusi terhadap ruang terbuka hijau dan ruang ruang fungsi lainnya

  • Logica Ruang Baru Industri Oksigen

Konsentrasi CO2 di atmosfir dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan disebabkan sebagian besar oleh aktivitas manusia (antropogenik). Pemberi konstribusi utama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil meliputi gas dan bahan bakar untuk kendaraan bermotor, konsumsi listrik, industri dan kekuatan tanaman. Konstribusi dari sektor tersebut diperkirakan sekitar 65 % dari total emisi di seluruh dunia. Selain itu, 14% berasal dari aktivitas pertanian, 18% kerusakan hutan, aktivitas domestik dan penguraian sampah (Anonimous, 2008). Salah satu upaya untuk menjaga dan mengendalikan konsentrasi gas CO2 adalah dengan menambah luasan ruang terbuka hijau (RTH) hutan kota. RTH hutan kota merupakan bagian dari RTH kota. RTH kota terdiri dari RTH hutan kota berupa areal bervegetasi pohon yang dikukuhkan sebagai kawasan hutan kota dan ruang terbuka hijau non hutan kota yang berupa hutan, kebun, sawah, semak dan rumput (Dahlan, 2004).

Dengan upaya penumbuhan 40.000 Pohon Flamboyant sebagai sebuah upaya dasar, membangun kilang kilang oksigen dalam kurun waktu yang cepat, Secara spesipik Flamboyang dalam kurun waktu satu tahun dapat tumbuh hingga 5 meter, dalam hal ini dapat dikategorikan sebagai tegakan yang dewasa dan siap  menghasilkan oksigen 1.2 Kg perhari per tegakan yang pada hajatan, aplikasi bersama ini dapat menghasilkan tegakan  60 % dari target capaian maka 24.000 tegakan akan menghasilkan 28,800 Kg oksigen perhari dengan kadar kebutuhan manusi perhari  0.6 Kg perhari yang artinya 60 %  tegakan sudah memberikan kebutuhan oksigen secara langsung kepada  57.600 jiwa,  jika ini diasumsikan dengan target 60 %, dengan jumlah  215,518 jiwa dengan kepadatan 0,27 jiwa/km2 dikabupaten Lombok Utara, artinya sumbangan kilang oksigen dengan multi efeck mampaat terpadu telah menyumbangkan 27 % kebutuhan oksigen seluruh masayarakat Lombok utara, yang menjadi paru paru baru di kabupaten Lombok utara

  • Urban Filter

Vegetasi berfungsi sebagai filter hidup yang menurunkan tingkat polusi dengan mengabsorbsi, detoksifikasi, akumulasi dan atau mengatur metabolisme di udara sehingga kualitas udara dapat meningkat dengan pelepasan oksigen di udara (Shannigrahi et al. 2003).

  1. Smart Green Land merupakan inovasi konsep RTH bagaimana membuat RTH memiliki fungsi sebagai paru-paru kota dan sebagai tempat yang nyaman melalui penyediaan fasilitas penunjang dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan. Daerah sisi jalan adalah daerah yang berfungsi untuk keselamatan dan kenyamanan pemakai jalan, lahan untuk pengembangan jalan, kawasan penyangga, jalur hijau, tempat pembangunan fasilitas pelayanan, dan perlindungan terhadap bentukan alam (Carpenter, 1975).
  2. Kontur Lombok Utara yang hampir 80 % seluruh wilayahnya bersinggungan dengan garis pantai, yang dimana secara langsung, paparan asam garam terkontak langsung dengan, masyarakat, vegetasi lain, lahan produksi pertanian dan factor pendukung  lainnya, dapat terkurangi dampak paparannya dengan tumbuhnya flamboyant sebagai sabuk pantai dan green land lanskap kabupaten Lombok utara
  • Biopory Kota

Tegakan pohon dapat mempengaruhi fungsi hidrologi tanah melalui intersepsi air hujan, lolos tajuk (troughfall), dan alir batang (stemflow), masukan seresah serta distribusi akar (Mas’ud et al 2004 cit.Dewi dkk., 2008Budiastuti, 2006; Hairiah et al 2006cit. Budiastuti, 2006).

Selain itu, siklus hidup akar pohon yang sangat dinamis dapat menciptakan biopori yang berukuran besar dalam waktu yang lama, sehingga memberikan laju perkolasi (peresapan) air yang tinggi dan dapat meningkatkan air tanah (ground water) (Anonim, 1998cit.Dewi dkk., 2008Stott et al., 1999cit.Dewi dkk., 2008; Agus et al., 2002cit.Dewi dkk., 2008).

 

  • Urban Forestry Consept ( RTH )
  1. Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu terbatas maupun tidak tertentu. Ruang terbuka hijau dapat berbentuk jalan, trotoar, taman kota, dan hutan kota. Luas RTH minimum sebesar 30 % merupakan ukuran minimum kawasan bervegetasi untuk menjamin keseimbangan ekosistem kawasan dengan memperhatikan fungsi dan estetika yang mendukung factor lainya (flamboyant)

 

  1. Keseimbangan ekosistem yang dipertahankan adalah fungsi hidrologis, iklim mikro, ketersediaan udara bersih agar dapat terjamin untuk kebutuhan warganya dan penyerapan karbondioksida. Di samping itu, kawasan bervegetasi dapat meningkatkan nilai estetika kawasan (Baharudin, 2011). Menurunnya kualitas permukiman di perkotaan dapat dilihat dari kemacetan yang mulai berkembang dilombok utara, berkembangnya kawasan kumuh yang rentan terhadap banjir, serta semakin hilangnya RTH untuk artikulasi dan kesehatan masyarkat.
  1. Keterbatasan lahan hijau menuntut peraturan daerah tersendiri yang mengatur kebijakan seperti pergantian tembok pembatas antar gedung bertingkat yang masif dengan pepohonan dan taman berfungsi peneduh sehingga dapat menyatu dengan trotoar yang berada di tepian badan jalan (Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2006).
  1. Pengelolaan lanskap adalah upaya terpadu dalam penataan dan pemanfaatan, pemeliharaan, pelestarian, pengendalian dan pengembangan lingkungan hidup sehingga tercipta lanskap yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Arifin, 2005). Pengelolaan atau manajemen merupakan suatu proses dari konsep, teori, dan analisis tujuan, yaitu merencanakan, mengatur, dan menja-lankan tujuan tersebut melalui usaha manu-sia secara sistematis, koordinatif dan saling kerja sama (Kraus dan Curtis, 1982).

 

  • Bird Consetration Urban Consept
  • Lingkungannya terdapat hubungan timbal balik, baik secara langsung maupun. Dalam memperoleh masukan zat-zat yang dibutuhkannya itu menyebabkan terjadinya pola interaksi antar makhluk dan lainya, sebagaimana harapan pada program sejuta flamboyant ini, melahirkan birdpark natural, yang secara tidak langsung ketika pohon flamboyant tumbuh dan menaungi menjadi kanopi alami, maka 25 species burung yang berhabita pada flamboyant akan datang dan beberap jenis serangga
  • Sabuk Pantai

Hampir seluruh kawasan pesisir di Indonesia tergolong sebagai kawasan dengan potensi bencana alam. Jenis bencana yang kerap kali dihadapi oleh mereka yang tinggal di pulau kecil dan berdekatan dengan pantai dan laut adalah gelombang pasang/abrasi dan gelombang tsunami. Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), setidaknya telah terdata sebanyak 15 bencana gelombang pasang/abrasi dan 1 bencana tsunami yang menimpa Indonesia tahun 2012. Kerugian yang diakibatkan dari bencana tersebut tentu tidak sedikit. Selain 37 orang yang meninggal, sebanyak 3.855 orang lainnya menderita dan mengungsi, serta kerusakan terhadap ratusan rumah dan sarana publik lainnya (BNPB, 2012).

Dampak dan kerugian yang diakibatkan dari peristiwa bencana, tak hanya memberikan pembelajaran perihal rencana strategis untuk mitigasi dan fasilitas pendukung lainnya, melainkan juga kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan terkait pada pengurangan resiko bencana. Peristiwa tsunami tahun 2004 yang menimpa Aceh dan kawasan pesisir lainnya di negara Asia Tenggara, telah menunjukkan adanya keterkaitan antara pengurangan resiko bencana dan pelestarian lingkungan hidup. Sejumlah kawasan pesisir dengan tingkat kelebatan Vegetasi Pesisir yang tinggi, ternyata mampu menekan laju gelombang pasang, sehingga resiko yang diakibatkan tidak akan sebesar kawasan pesisir lain yang tak memiliki vegetasi pantai

Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri yang unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya. Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi misalnya pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata dan lain-lain.

Wilayah pesisir merupakan ekosistem transisi yang dipengaruhi daratan dan lautan, yang mencakup beberapa ekosistem, salah satunya adalah ekosistem hutan pesisir. Hutan Pesisir merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan kelautan. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan (nursery ground) berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan badai dan gelombang tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, Vegetasi Pantai  juga mempunyai fungsi ekonomis yang tinggi seperti sebagai penyedia kayu, obat-obatan, alat dan daerah penangkapan ikan. Sebagai vegetasi endemik yang hidup di antara transisi daerah laut dan daratan di kawasan pesisir, keberadaan hutan Pesisir menjadi penting sebagai sabuk hijau (green belt) bagi area pesisir dan sekitarnya. Sabuk Pantai memiliki banyak fungsi fisik, ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan bagi masyarakat dan kawasan pesisir.

Ada banyak keuntungan yang didapatkan dari proses mitigasi yang berbasis pada alam. Mitigasi berbasis pohon untuk bencana gelombang pasang/abrasi dan tsunami misalnya, tak hanya akan memberikan manfaat fisik dan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat lain yang bisa diberdayakan oleh masyarakat pesisir dan pihak lainnya. Karena hutan pesisir  merupakan daerah bagi berbagai satwa untuk berkembang biak, maka kelestarian akan berdampak langsung bagi hadirnya berbagai lebah madu, aneka burung, dan fauna lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai mata pencaharian penduduk dan pengembangan eko-wisata/ecotourism.

Hal tersebut akan lebih fatal bila kondisi hutan dan ruang terbuka hijau daerah tepi tidak terjaga dan tersiapkan dengan baik

 

 

MENGAPA HARUS FLAMBOYAN……?

TENTANG BUNGA API

Ada sejumlah kontroversi berkaitan dengan nama populer flamboyan. Sebagian menyebut dengan istilah mohr (artinya merak) dan gul (artinya bunga). Secara harfiah, maknanya mendekati peacock flower (bunga merak) atau di Indonesia dikenal juga dengan sebutan jingoh. Meski sama-sama cemerlang dengan warna bunga merah dan jingga, flamboyan jelas berbeda dengan bunga merak.

Orang India menyebutnya dengan nama gulmohar. Nama etnik lainnya adalah sunkervara, mayarum, atau shima sankesula. Namun, di antara nama-nama yang diberikan, yang paling dikenal adalah nama yang berasal dari bahasa Prancis, fleur de paradis dan flamboyant. Nama inilah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat kita di Indonesia dan beberapa masayrakat timur menyebutnya dengan Bungga Api.

Sedangkan nama botani Royal Poinciana diberikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Gubernur Antilles, M. de Poinci, yang pada abad ke-17 untuk pertama kalinya membawa tanaman flamboyan dari habitat aslinya yang liar di hutan Malagasy Barat, Madagaskar, untuk kemudian didomestikasi dan disebarluaskan ke berbagai belahan dunia. Berkat jasa Poinci pula, bunga flamboyan yang semula dianggap angker itu bisa dinikmati keindahan oleh masyarakat, termasuk kita di Indonesia.

Flamboyan merupakan tanaman berbunga yang tumbuh di kawasan tropis dan subtropis. Tanaman ini cukup toleran di daerah kering dan kondisi air yang asin. Di daerah dengan kondisi kemarau panjang, daun flamboyan tumbuh hampir sepanjang musim. Namun, di daerah lain, flamboyan malah menggugurkan daun-daunnya seperti terjadi di Suriname dan sebagian Indonesia. Musim berbunganya berbeda antara satu tempat/negara dengan tempat/negara lain. Jika di Indonesia bunga flamboyan mekar pada Oktober-Desember, di India bunganya mekar pada periode April-Juni.

Selain tampak indah sebagai tanaman hias, flamboyan juga memainkan fungsi lain yang tak kalah pentingnya, sebagai pohon peneduh. Bagi penduduk yang menghuni kawasan tropis, kehadiran flamboyan dengan daun-daunnya yang rimbun menjadi anugerah tersendiri. Orang-orang yang berada di bawah rindangnya pohon flamboyan bukan saja terhindar dari sengatan sinar matahari yang terik, tapi juga bisa menikmati kesegaran udara (oksigen) yang dihasilkan oleh daunnya yang rimbun.

juga tumbuh di Australia. Di Amerika Serikat juga bisa ditemui meski di kawasan yang terbatas seperti di Florida, Rio Grande Valley sebelah selatan Texas, dataran rendah Arizona dan California, Hawaii, Pulau Virgin. Flamboyan tumbuh secara luas di Karibia, Puerto Rico, dan Kepulauan Guam. Di Kepulauan Mariana Utara, flamboyan merupakan pohon resmi negara.

Di Kepulauan Karibia biji flamboyan digunakan sebagai instrumen perkusi yang dikenal dengan sebutan the shak-shak atau maraca. Status tanaman ini termasuk yang dilindungi.

Mandat Bumi Sejuta Flamboyan :

  • Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, Sebagai Manipestasi Mewujudkan icon baru Lombok Utara
  • Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, Sebagai Aplikasi membangun mental kesadaran pentingnya menanam dan menjaga pohon sebagai kesadaran yang utuh
  • Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, sebagai generator, menghidupkan inisiasi keterlibatan masyarakat, Pihak Swasta dan Instasi Lintas Sektor untuk membangun Keteraturan penanaman pohon berbasis Partisifasi dan Blocking
  • Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, sebagai media penumbuhan mental berkesadaran,  pentingnya nilai penanaman, untuk menjaga, Hutan, Elevasi Ruang Kota
  • Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, Upaya meciptakan ketangguhan Masayarakat dengan Membangun ruang pariwisata baru dengan program yang berkait berbasis Daulat Pohon
  • Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan, sebagai  cara memberikan ruang kreatif dalam upaya,  bina lingkungan, bina wisata, bina bencana dan bina usaha
  • Terbuka Ruang Safari Baru Bagi Masayarakat Kabupaten Lombok Utara

 

Totalitas keterbangunan tidak hanya memberi ruang pada megahnya sarana fisik tapi semua hal yang mendukung majunya sebuah daerah harus terbangun secara bersama – sama karena seperti itulah sejatinya konsept pembangunan yang

Begitu halnya dengan Lombok Utara yang sepertinya adalah daerah yang terbentuk dari penggalan surga karena kesuburan serta keindahannya, kita bisa menanam benih kesejahteraan apapun di Gumi Faer Daya Lombok Utara namun epertinya kita belum pandai membuatnya seperti itu.

Meyakini Lombok Utara sebagai sebuah kabupaten yang memliki potensi Sumber Daya Manusia dan Alam yang begitu kuat maka sudah seharusnya konsept – konsept keterbangunan logikanya harus terfasilitasi dengan arif dan bijak

Akhirnya kami meyakini keinginan realistis ini akan menjadi target dan hal prioritas yang harus segera diusahakan keterbangunannya,